Banjir

20 Jan

31 Januari 2014 jatuh pada hari Jumat dan hari libur nasional, jadi di akhir Januari ada long weekend (libur Jumat, Sabtu, Minggu). Sudah sejak seminggu sebelumnya dibuat rencana touring ke tempat wisata Guci di Jawa tengah. Persiapan segera dilakukan dengan mendata rekan-rekan biker yang berminat untuk ikut (rata-rata semua berminat ikut, masalahnya bila semua ikut touring, nanti yang jaga gawang di kantor dan didaerah siapa?). Setelah terdaftar semua yang bisa dan mau ikut touring, dirembukin rutenya, disepakati rutenya lewat pantura yaitu Jakarta-Cirebon-Prumpuk-Slawi dan Guci. Rute kembalinya juga sama dengan rute berangkat. Kembali hari Sabtu, sehingga hari minggu masih bisa untuk urus anak/isteri. Kemudian step berikutnya, mencari penginapan yang sesuai besaran kantong, menurut bro Jois,  kamarnya tidak perlu mewah asal ada AC, King size bed, air panas, mini bar, TV kabel, bathtub, 24 jam room service dan lain-lain. Karena di Guci tidak ada penginapan dengan kriterianya bro Jois, jadi dicari tempat yang lain. Sudah dapat penginapan dengan harga terjangkau, dan sekalian dipesan untuk tanggal 31 Januari 2014.

Semalam ada berita di tv, bahwa pantura didaerah pamanukan dan Indramayu, jalannya tertutup banjir, menyebabkan kemacetan sepanjang 30 km. Langsung donk para biker ngumpul tadi pagi untuk diskusi, dengan kondisi jalan saat ini apakah rencana tour diteruskan atau ditunda. Akhirnya diputuskan rencana tour ke Guci ditunda, sambil melihat perkembangan cuaca dan kondisi jalan di Pantura. Tapi jangan khawatir untuk rekan Trigana-Biker, masih ada long weekend lain di bulan Maret dan April 2014.

Yang penting “TETAP SEMANGAT”

Liburan

29 Des

Sementara para rekan Trigana-Biker bersiap untuk melakukan touring ke Lembang Sabtu tanggal 21 Desember 2013, maka dengan berat hati, saya meminta maaf untuk tidak bisa joint, karena sudah janji dengan dengan keluarga untuk menemai anak yang paling kecil usia 8 tahun, melakukan liburan ke Jawa Tengah dan akan berangkat menggunakan mobil kamis malam tanggal 19 Desember 2013. Sengaja berangkat sebelum libur resmi sekolah, agar kembalinya bisa lebih cepat sehingga bisa tetap kekantor diliburan panjang akhir tahun ini.

Perjalanan dimulai berangkat dari rumah tepat jam 12 malam, dengan penumpang dewasa 2 orang dan anak-anak 5 orang, karena ada 4 orang keponakan yang ikut, melalui tol Cikampek, masuk ke rest area terdekat untuk isi bensin karena memang sudah sejak kemarin indicator menyala kuning (tangki hampir habis). Biasanya saya selalu isi bensin type Super di Shell. Karena di rest area ini hanya ada SPBU Pertamina, maka saya isi dengan Pertamax. Perjalanan dilanjutkan. Setelah keluar dari pintu tol di Cikarang, tempat mengambil kartu toll, terjebak kemacetan panjang. Ternyata ada perbaikan jalan di antara Krawang barat dan Krawang Timur. Kemacetan ini membuat perjalanan jadi mundur 1 jam. Sangat baik sekiranya pengelola toll memberikan informasi, sehingga para pengguna jalan bisa membuat keputusan apakah lanjut terus atau istirahat sebentar. Tanpa informasi, para pengguna jalan tidak tahu, penyebab kemacetan serta seberapa panjang kemacetan yang sudah terjadi. Informasi yang sifatnya sepele ini sangat bermanfaat bagi semua pengguna jalan toll. Tanpa informasi, semua pengguna jalan yang terjebak kemacetan hanya bisa menduga-duga sambil bersumpah serapah.

Selepas kemacetan, perjalanan lancar sampai keluar pintu tol Cikampek, kemudian seperti biasa agak tersendat di simpang jomin, setelah itu kembali normal dan masuk jalan raya Pantura yang sangat terkenal sebagai jalur tengkorak (karena seringnya terjadi kecelakaan lalulintas). Bagaimana tidak akan banyak kecelakaan, kalau kendaraan berat seperti truk tronton, truk gandeng, bis besar jalannya malah disebelah kanan, yang seharusnya jalur untuk kendaraan yang lebih cepat. Jadi bila mau mendahului truk atau bis, kendaraan kita harus menyalibnya dari sebelah kiri yang notabene sangat sulit untuk pengemudi yang duduknya disebelah kanan. Setelah bisa menyalib truk dari kiri, kadang langsung berhadapan dengan kendaraan lain yang jalannya lebih lambat di sebelah kiri, untuk menusulnya kembali harus banting setir kekanan bergaya zig-zag, begitu seterunya selama di jalur tengkorak. Sehingga harus benar-benar super hati-hati, apalagi berjalan dimalam hari. Tidak tahu juga sejak kapan diberlakukan truk dan bis disebelah kanan dan nyalib dari kiri. Awal tahun 70an saat saya sering naik bis dari Jakarta ke Semarang, aturan aneh ini sudah berjalan. Walaupun tidak sesuai dengan aturan yang baku dalam berlalulintas, tapi tidak pernah ada penertiban dari Kepolisian. Akibatnya sesuatu yang tidak wajar dan melanggar hukum, karena terbiasa menjadi sesuatu yang wajar dan aturan yang benar, jadi tidak berlaku lagi..

Karena waktu sudah menunjuk jam 04:40, berhenti disebuah Mesjid sebelum kota Cirebon untuk Sholat Subuh sambil meregangkan kaki dan punggung yang sudah mulai terasa pegal. Setelah Sholat, perjalanan dilanjutkan melalui tol Kanci-Pejagan. Keluar Pejagan, menuju arah Purwokerto, jalan mulai meliuk-liuk dan naik turun. Terasa injakan pada pedal gas serta tenaga mesin sangat tidak seimbang, seperti ada yang ngempos  tenaganya. Saya coba telpon teman ahli kendaraan, dia tanya apakah diisi pertamax?, saya jawab iya. Lalu katanya kalau kedaerah dari pada isi pertamax, mending isi premium saja, karena pengaruh ke mesin sama saja.Tiba di Purwokerto sekitar jam 07:30, berhenti untuk sarapan di sebuah rumah makan. Anak-anak langsung pesan nasi goreng semuanya. Setelah tidak tidur semalaman, saya agak mengantuk. Isteri menggantikan memegang kemudi Dengan isteri saya yang mengemudi, saya langsung tidur, dan dibangunkan didepan sebuah Mesjid setelah kota Banjarnegara, dimana waktu sudah jam 11:30 untuk Sholat Jumat. Setelah selesai Sholat Jumat bersama anak saya dan keponakan yang laki-laki, perjalanan dilanjutkan menuju Wonosobo dan berhenti di Dieng sekitar jam 14:30.

Udara di Dieng sangat dingin dengan angin bertiup kencang disertai kabut tebal dan hujan yang kadang gerimis kadang turun deras. Beberapa lokasi wisata di Dieng disinggahi seperti Dieng Plateu, kawah sikidang, telaga warna, candi seribu  dan lainnya sambil mampir di warung untuk pesan kopi panas dan Mie Ongklok pengganti makan siang. Teringat saat touring dengan rekan Trigana-Biker ke Dieng, semua biker pada pesan kopi Purwoceng (khusus lelaki).

Image

Image

Setelah Magrib, perjalanan dilanjutkan menuju Magelang, dan akan bermalam disana. Sebelum masuk Magelang mampir di rumah makan prasmanan, yang cukup lezat rasanya serta harganya cukup murah. Tiba di penginapan yang sudah dipesan jauh hari sebelumnya, sekitar jam 21:00. Anak-anak setelah mandi, langsung tidur.

Sabtu pagi setelah sarapan, perjalanan menuju Ketep pass, sampai disana, kabutnya tebal sehingga gunung Sumbing dan Sindoro yang biasanya terhampar dengan indahnya, tidak terlihat. Ya sudah semua sesi foto-fotoan hanya berlatar belakang kabut putih. Lalu perjalanan menuju Ambarawa dengan tujuan Musium Kereta Api, dimana saya sudah janji kepada anak, bahwa di Ambarawa bisa naik kereta kuno yang masih pakai batubara, keliling ambarawa. Ternyata setiba disana, Musium Kereta Api tersebut tutup, dengan secarik kecil pengumuman karena akan di renovasi. Agak kesal juga, sudah jauh-jauh datang ternyata tutup. Saya Tanya kepada salah seorang pedagang makanan disitu, sejak kapan ditutupnya, katanya sudah hampir 3 tahun ditutup, tanpa ada kejelasan kapan dibuka kembali. Pedagang tersebut juga cukup kesal, karena otomatis rejekinyapun berkurang. Seharusnya pihak KAI bisa mengumumkan status dari Musium ini di laman website mereka. Karena ada keluarga yang nasibnya seperti saya juga, padahal mereka datang dari Bengkulu. Saya lihat juga tidak ada tanda-tanda sedang dilakukan renovasi. Buat mengurangi kekesalan, sesi foto dari luar pagar tetap berlanjut. Dari Musium kereta tutup ini, mengarah ke Musium perjuangan “Palagan Ambarawa”. Dengan harga tiket masuk yang murah, banyak peninggalan sejarah perang kemerdekaan yang bisa kita lihat dan menjelaskannya kepada anak-anak. Sempat ber sms an dengan pak Jois, mengenai touringnya, diinfokan semua lancar dan saat ini semua rekan lagi pada berendam di Ciater.

Dari Ambarawa, menuju Candi Borobudur di Muntilan, kemudian candi Prambanan dan kembali lagi ke Magelang. Hari Minggu, start jam 9 pagi dari penginapan, menuju Jogyakarta dan menghabiskan waktu disana sampai malam dari melihat keraton, ke Kaliurang untuk melihat-lihat bekas lutusan gunung Merapi dan lesehan di malioboro malam hari. Jam 11 malam kembali ke Magelang. Selama perjalanan, hujan turun terus tidak pernah berhenti.

Senin pagi jam 9 siap-siap untuk kembali ke Jakarta, rute pulang sama dengan rute berangkat. Selama di perjalanan juga terus kehujanan. Berhenti pada tempat-tempat yang menarik untuk berfoto. Saya menyetir bergantian dengan isteri. Makan malam agak telat sekitar jam 9 malam didaerah Ketanggungan. Setelah makan malam, langsung masuk tol pejagan keluar Cirebon dan masuk lagi tol Cikampek sampai Jakarta, dan tiba dirumah dengan selamat jam 2 pagi. Walaupun lelah, tapi melihat wajah anak serta keponakan yang merasa puas, maka rasa lelahpun jadi hilang. Semoga liburan kali ini membawa kenangan yang cukup indah bagi anak saya serta saudaranya yang lain.

Touring ke Bandung

9 Des

Rabu tanggal 4 Desember 2013 sore selepas jam kerja kantor, sambil duduk-duduk didekat Musolah, ngobrol untuk kegiatan pada akhir pecan nanti. Kebetulan berdasarkan info dari beberapa teman kantor yang menjadi anggota BB (Bikers Brotherhood), sebuah komunitas pengendara sepeda motor antic buatan Amerika dan Eropa yang bermarkas di Bandung, bahwa BB akan mengadakan acara Ultahnya yang ke 25 di Bandung, tepatnya di Gudang Persediaan PT. KAI. Beberapa kali menghadiri acara Ultah BB ini selalu ramai dengan bermacam suguhan yang sangat menghibur, baik untuk para biker maupun untuk masyarakat disekitar kegiatan acara berlangsung.

Diputuskan untuk riding bareng ke Bandung, dengan rencana berangkat Jumat malam dan kembali Sabtu malam. Rute Jakarta ke Bandung atau sebaliknya disaat akhir minggu pasti rame macet, sangat tidak nyaman untuk berkendara (naik motor atau naik mobil). Tapi banyak orang yang cuek-cuek saja dengan kemacetan, mungkin sejak berangkat dari rumahnya memang sudah diniatkan banget untuk tetap sabar dalam kemacetan yang penting bisa jalan-jalan dengan keluarga. Karena tidak ingin ketemu macet tersebut, maka banyak rekan-rekan Trigana-Biker selalu start melakukan perjalanan dimalam hari, biasanya diatas jam 11 malam, tergantung sikonnya.

Hari Jumat, selesai sholat Jumat, beberapa rekan minta ijin untuk jalan duluan, ini rekan-rekan yang tidak suka jalan dimalam hari, karena takut ngantuk. Mereka lebih suka bermacet ria asal jalannya di siang hari. Selepas Magrib, saya check lagi ke beberapa rekan, siapa yang akan jalan nanti malam, ternyata hanya bro Jois beserta anaknya yang Penerbang di Garuda yang akan jalan, tapi sekarang bro Jois sedang antar permaisurinya dulu ke bandara. Sampai jam 11 malam, saya tunggu dikantor ternyata tidak ada yang nongol, cuaca dari sore hujan deras terus menerus, diseling berhenti sebentar, gerimis dan deras lagi. Saat mau jalan saja sendiri, dapat info dari pak Tridjana bahwa ada kesalahan info dari penginapan di Bandung, sehingga baru bisa check in hari Sabtu siang. Terpaksa keberangkatan ditunda, daripada sampai di Bandung masih tengah malam, tapi tidak bisa istirahat. Kembali pulang kerumah, dimana sudah ditunggu anak yang paling kecil, usia 8 tahun. Berubah lagi rencana, daripada sendirian dijalan, mendingan ajak anak, kebetulan dia libur sehari setelah selesai ulangan semesteran. Jadilah Sabtu pagi jam 6 berangkat naik si roda empat bersama anak ke Bandung. Alhamdulillah, dijalan sangat lancar, dan tiba di Bandung jam 8. Karena belum bisa masuk penginapan, muter dulu cari sarapan pagi. Kontak ke bro Jois, menanyakan kenapa tidak jadi riding, dijawab karena dapat info tidak dapat penginapan. Coba kontak beberapa teman lama yang tinggal di Bandung, ternyata tidak satupun lagi berada di Bandung, ada yang lagi nyangkul (tugas) di Timika, ada yang belon balik dari tempat tugas, ada yang lagi jagain cucunya diluar kota, ada yang hp nya gak nyambung-nyambung, nyebelin.

Selesai sarapan, sudah jam 10, karena ke penginapan juga belum bisa masuk, ya udah langsung saja ke lokasi acara ultah BB. Ditempat acara, celingukan cari-cari teman biker yang kenal, tapi belum ketemu. Cuaca yang tadinya hujan deras, berubah cukup cerah walaupun masih terlihat agak mendung. Hal ini sangat dibutuhkan mengingat ketua BB yang dipanggil dengan sebutan El Presidente akan datang dengan menggunakan helicopter, dan juga akan ada atraksi terjun payung yang salah satu penerjunnya adalah sesepuh BB. Pilot yang membawa penerjun serta Pilot helicopter yang membawa ketua BB adalah  anggota BB semua. Memang  anggota BB ini terdiri dari beragam profesi. Sekitar jam 12, Ketua BB tiba, dan langsung acara pembukaan yang diteruskan dengan beberapa hiburan. Biker yang datang disamping anggota BB dari luar Bandung juga banyak komunitas biker yang lain yang ikut hadir. Bahkan ada Biker dari Negara tetangga seperti Singapore dan Malaysia. Saya sempat ngobrol dengan salah seorang biker dari Malaysia. Dia datang ke Bandung bersama keluarganya naik pesawat. Sementara dia ke acara BB, keluarganya shopping di outlet-outlet di Bandung. Kenyataannya emang banyak warga Negara tetangga yang berakhir pekan di Bandung.

Sempat ketemu dengan beberapa bikers yang memang teman lama dan 15 tahun lalu pernah barengan touring ke Sumatera dan Sulawesi. Sambil lihat-lihat lapak (kios-kios yang berjualan aksesoris biker), juga ketemu beberapa teman lama dari berbagai komunitas motor.

 Image

Setelah membeli beberapa T-shirt untuk anak, serta beberapa buah T-shirt khusus BB, oleh-oleh untuk rekan biker dikantor yang tidak sempat datang ke Bandung, jam 5 sore dari tempat acara menuju penginapan. Setelah check in, langsung ketiduran dikamar. Dibangunin anak sekitar jam 7 malam, dan minta pulang karena sudah janjian sama teman-temannya untuk bersepeda Minggu pagi disepanjang BKT (Banjir Kanal Timur). Dalam perjalanan pulang, hanya kena macet sebentar di Pasteur, setelah itu lancar banget. Sempat istirahat di rest area sebelum pintu tol keluar Sadang, dan makan di RM. Ciganea yang sambal terasinya maknyus. Sampai dirumah tepat jam 21:30. Kemudian check rekan-rekan yang naik motor dan start dari Bandung jam 3 sore, ternyata juga baru nyampe semua dirumahnya masing-masing, kena macet parah dari mulai Bandung sampai Cianjur. Setelah Cianjur mereka ambil jalan lewat Jonggol dan cukup lancar. Sekian dulu cerita touringnya yang kurang vitamin, sampai ketemu pada acara touring selanjutnya yang mudah-mudahan akan lebih seru dan berkesan.

Touring ke Pamengpeuk

20 Nov

Setelah cukup lama tanpa ada kegiatan touring bersama, hari selasa yang lalu, tanpa aklamasi diputuskan untuk mengadakan touring dengan rute Jakarta – Pamengpeuk (Pantai Selatan Kabupaten garut). Touring direncanakan berangkat hari jumat malam tanggal 15 November 2013, dan kembali ke Jakarta hari Minggu tanggal 17 November 2013.

Sampai hari Kamis sudah tercatat ada 15 biker yang mendaftar ditambah 2 boncenger (duo ratu). Pada Jumat sore ternyata jumlah biker yang akan ikut hanya ada 9 orang ditambah kelompok penggembira di mobil ada 8 orang, sedangkan duo ratu yang biasanya setia selalu ikut tour, batal ikut karena salah satunya sakit. Jadi total peserta 17 orang, jumlah terendah selama kegiatan touring.

Selepas jam kantor, beberapa peserta yang rumahnya tidak terlalu jauh dari kantor, kembali dulu kerumah, untuk mengambil pakaian, tapi yang merasa rumahnya cukup jauh jaraknya dari kantor, sudah membawa pakaian dan biker gears sejak berangkat dari rumah. Sejak sore hari hujan turun cukup deras dan menjelang keberangkatan, walaupun tidak terlalu deras, hujan masih turun.

Jam 23:20 setelah persiapan yang cukup dan berdoa bersama, 8 orang biker mulai bergerak meninggalkan halaman kantor ditengah hujan yang masih turun. Biker terdiri dari pak Jois (sebagai Road Captain) diikuti pak Mulya dan pak Aries, 3 orang yang berumur hampir dikepala enam. Kemudian disusul oleh B.Sulis, Fathur, Asep dan disusul oleh Anton sebagai Safety Officer dan Zulkifli sebagai Sweeper. 1 orang biker kepala enam, pak Siswadi menunggu rombongan di perempatan Cibubur, jalan raya Bogor.

20 menit setelah para biker berangkat, mobil yang ditumpangi kelompok penggembira segera menyusul berangkat langsung menuju jalan TOL Cikampek-Cilenyi, dan rencana menunggu rombongan biker di Mesjid didaerah Nagrek, sebelum pertigaan menuju Garut.

Perjalanan rombongan biker dari kantor di kalimalang, menuju Pondok gede, selepas pasar pondok gede, terkena macet didepan asrama haji, dikarenakan ada kloter jamaah haji yang baru tiba, sehingga jalan dipenuhi mobil para penjemput jamaah haji. Setelah asrama haji, masuk pasar Hek, jalan raya Bogor. Mendekati Cibubur, rombongan memperlambat kendaraan, untuk melihat pak Siswadi yang termasuk biker tuwir kepala 6, yang langsung bergabung dengan rombongan.

Sabtu, Jam 00:20, sesuai rencana, rombongan stop didepan terminal Baranangsiang Bogor, dipinggir jalan menuju TOL Jagorawi. Hujan sudah berhenti, dan sebagian biker membuka jas hujannya. Istirahat sebentar sambil menikmati asap nikotin buat yang masih gemar meracuni diri dan juga ngemil donat yang dibawa oleh sweeper.

Jam 00:40 perjalan dilanjutkan menuju Ciawi, Cisarua, Puncak, jembatan Raja Mandala, kemudian berhenti sesuai rencana tepat jam 01:30 di SPBU Cipatat, untuk beristirahat dan refueling.

Jam 02:00, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Padalarang, Cimahi, Bandung, Cilenyi. Setelah Cilenyi, didaerah Rancaekek, jalan macet parah, karena ada pengecoran satu bidang jalan. Setelah lepas dari macet, karena sudah masuk waktu subuh, sebagian biker yang berada didepan, berhenti di Mesjid PLN di rancaekek, dan sebagian yang agak tercecer dibelakang, karena macet, tetap langsung menuju pemberhentian sesuai rencana di Nagrek. Sebagian rombongan yang menuju Nagrek, tiba di Mesjid yang berlokasi sebelum pertigaan Garut, jam 05:00. Tidak lama kemudian, biker yang berhenti di rancaekek serta penggembira di mobil, menyatu kembali di Mesjid ini.  Sehabis Sholat Subuh, untuk melepas penat serta kantuk yang tertahan, beberapa biker coba untuk tidur, tapi umumnya tidak bisa tidur, karena selalu diajak ngobrol. Apalagi saat itu bertemu seorang biker yang sudah berumur, berboncengan dengan isterinya, dimana biker tersebut berangkat dari kota Serang untuk menuju Banjar. Dalam obrolan biker tersebut mengaku berusia 75 tahun (kelupaan namanya siapa), dan memiliki anak sebanyak 14 orang dari isteri pertama. Dalam perjalanan ini, dia bersama isteri keduanya yang masih berusia 28 tahun. Kontan para Trigana Bikers, menanyakan apa rahasianya hingga bisa kuat dan sehat begitu. Si bapak biker segera mengeluarkan rahasianya berupa sebuah botol plastic, bekas kemasan air mineral yang sudah berisikan air ramuannya. Dan botol tersebut diberikan kepada pak Jois sang Road captain yang memang sangat antusias dan berkepentingan sekali untuk bisa lebih perkasa. Menurut biker ohir nan gagah tersebut, minum ramuannya, maka semua rasa penat dan pegal bisa hilang seketika. Setelah dilanjutkan dengan obrolan ringan, bapak biker dan isterinya pamit duluan melanjutkan perjalanannya.

Gambar

Jam 08:00, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Garut kemudian Cisurupan, jalan disini berkelok-kelok, badan jalan tidak terlalu lebar dengan tikungan sangat tajam dan jurang dipinggirnya. Jalan juga dikelilingi pemandangan yang sangat indah dengan diapit Gunung papandayan dan Gunung Cikurai, beberapa air terjun terlihat dikejauhan. Kondisi jalan pada umumnya cukup baik, walau pada beberapa ruas jalan, ada yang rusak, sehingga rombongan harus konsentrasi penuh. Jalan yang habis terguyur hujan deras, juga membuat kendala tersendiri untuk biker, karena licin. Beberapa biker sempat skidding, tapi masih bisa menguasai tunggangannya agar tidak terjatuh.

Jam 10:15 rombongan tiba di Pamengpeuk, Pantai Santolo, dan langsung menuju penginapan yang telah dipesan. Untuk makan siang segera dipesan di salah satu rumah makan, tentu saja menu utama adalah masakan laut. Mobil para penggembira terlambat tiba, dan baru datang menjelang jam 12, setelah menu makan siang terhidang. Setelah ditanya, bukan karena kesasar, tapi beberapa penggembira secara bergantian mengalami mabuk darat yang mengharuskan mobil berhenti beberapa kali untuk mencegah isi perut tumpah didalam mobil. Sebagian peserta langsung menyendok makan siangnya, yang terdiri dari 2 ekor ikan kakap putih dibakar dengan ukuran yang sangat besar, ditambah dua porsi sotong dimasak asam manis dan lalapan. Sebagian lagi, sholat Dzuhur dahulu, kemudian bergabung makan siang di bale-bale yang cukup luas. Aroma ikan bakar, suasana pantai dan angin laut membuat makanan terasa lebih nikmat, hingga tandas semua.

Gambar

Gambar

Jam 17:00 para penggembira bersiap untuk kembali ke Jakarta, karena beberapa diantaranya memiliki agenda sendiri untuk hari minggu. Rombongan juga setelah makan malam dengan tetap menu ikan ditambah udang, langsung beristirahat, agar besok pagi dapat segar kembali.

Minggu jam 05:30, rombongan sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta. Jam 06:10 rombongan mulai bergerak meninggalkan Pantai Santolo-Pamengpeuk. Dengan rute sebaliknya sesuai rute berangkat. Selama perjalanan, semua lancar, bahkan perkiraan ketemu macet di rancaekek, ternyata lancar saja. Jam 11:10 rombongan sudah berhenti didaerah Cianjur untuk isi tangki kendaraan dan juga tangki bikernya.

Gambar

Jam 13:30 perjalanan dilanjutkan dengan belok kearah Jonggol, karena menghindari melewati Puncak, yang dikhawatirkan akan padat seperti biasanya saat weekend. Menuju Jonggol, rombongan terguyur hujan deras. Juga ternyata jalan raya Jonggol banyak terdapat genangan tanah liat yang terjatuh dari setiap truk pengangkut tanah, yang begitu tersiram hujan, menjadikan badan jalan sangat licin. Juga banyak sisa longsoran tanah dari bukit dipinggir jalan yang terbawa aliran air hujan yang deras memenuhi badan jalan. Rombongan harus lebih berhati-hati melewati hambatan ini.

Memasuki Cilengsi, beberapa biker yang tempat tinggalnya di area Bekasi dan Cibubur, memisahkan diri dengan rombongan untuk lansung menuju rumah masing-masing. Hanya ada 3 biker yang tiba dikantor tepat jam 17:00. Jam 19:00 setelah berkomunikasi dan saling bertanya, semua biker diketahui telah tiba dirumahnya masing-masing dengan selamat. Alhamdulillah touring telah terlaksana dengan lancar tanpa ada kekurangan apapun.

Semoga semangat kebersamaan dalam touring tetap terpelihara dalam bekerja.

 

IDLE

5 Jun

Selama hampir 6 bulan ini, sejak perhelatan touring terakhir ke Bukittinggi, aktivitas touring sedikit melempem, mungkin dikarenakan yang pertama akibat tingginya curah hujan yang terjadi di Indonesia, sehingga menyebabkan banjir dibeberapa daerah serta banyak jalan yang terhambat akibat terjadi longsor. Agak mengkhawatirkan memang, bila saat dalam perjalanan touring, kemudian terjadi longsor yang menutupi jalan, sehingga ingin kembali ketempat semula sudah terlalu jauh dan sudah tanggung ditengah perjalanan. Mau memutar melalui jalan alternatif, pasti akan menambah waktu touring dan juga belum tahu apakah jalan alternatif tersebut kondisinya bagus. Pengalaman lalu saat touring dari Medan ke Jakarta, ditengah rute Sipirok – Bukittinggi, jalan terputus karena longsor, setelah berunding serta meminta nasehat/masukan dari petugas Polisi dan juga penduduk lokal, perjalanan tetap dilanjutkan dengan melalui jalur alternatif dipandu oleh seorang penduduk lokal yang tahu arah di jalan alternatif. Sang pemandu dibonceng oleh rekan yang didepan (Road Captain).  Jalan alternatif yang dilalui ternyata sangat berat, disamping berliku-liku dan sempit, juga tanjakan dan menurunnya sangat curam dan licin.  Jalan memutar tersebut ditempuh lebih dari 6 jam dengan jarak sekitar 200 km. Hasilnya bila dalam perencanaan start dari Sipirok jam 7 pagi dan akan tiba di Bukittinggi paling lambat jam 5 sore, maka rombongan tiba di Bukittinggi menjelang jam 2 pagi. Pengalaman menegangkan jam 12 tengah malam masih berada di Kelok 44 (daerah antara danau Maninjau dan Bukittinggi, dengan jumlah belokan sebanyak 44 belokan yang sangat gelap dan sepi juga banyak monyet yang berkeliaran dengan bebasnya hingga ke jalan. Yang kedua mungkin juga kantong setiap biker masih agak kempes, dimana masih ada kebutuhan primer lainnya yang lebih penting, sehingga semangat untuk ber adventure mendingan di rem dulu, untuk ngambil napas agar kantong bisa bergelembung lagi (ha..ha..ha.. tapi ada biker seperti Bro Aries dan Bro Zul, yang dalam saat idle ini berencana ganti tunggangan dengan yang lebih macho Kawasaki Z250 Naked one).

Jalan pintas mencegah idle berkepanjangan, beberapa rekan sempat memberikan usul untuk touring jarak pendek saja, yang bisa ditempuh dalam waktu sehari pulang pergi, tidak perlu menginap, agar tidak ada biaya penginapan dan lainnya. Touring jarak pendek yang diusulkan seperti ke Waduk Cirata atau ke Gunung Bunder (enak nech kalo ke gunung bunder, karena biasanya ditraktir sate kambing dan duren lokal oleh sing mbahurekso disana, pak Tridjana). Cuma masalahnya hampir semua rekan sudah pernah kesana lebih dari sekali. jadi tetap saja semangatnya masih di rata-rata aer.

Menjelang Ulangan kenaikan kelas sekolah SD dan SMP di pertengahan bulan Juni ini disusul oleh liburan panjang (mungkin selama 2 minggu) setelah pembagian raport, dijamin dech untuk touring akan di nomor dua puluhkan, karena lebih wajib memprioritaskan untuk menemani si buah hati dan bundanya selama liburan. Berakhirnya masa liburan akan segera dimulainya bulan Suci Ramadhan di awal Juli. Otomatis kemungkinan sampai akhir Agustus sepertinya tidak akan ada kegiatan touring. Buat rekan yang menggunakan sepeda motor dari rumah ke kantor dengan jarak rata-rata 60-80 km pulang pergi, maka aktifvitas tersebut seperti “Lone Rider” alias touring awak’e dewe. Buat rekan yang jaraknya rumah kekantor tidak begitu jauh, boleh muter-muter dulu merasakan nikmatnya jalan raya di Jakarta yang selalu macet, sambil latihan mental agar selalu sabar, bila ketemu pengendara yang bawaannya berangasan tidak peduli dengan orang lain yang sama-sama menggunakan jalan raya. Pengendara berangasan seperti ini, tidak pandang kasta, mulai dari yang pakai motor yang paling keren atau mobil yang paling mewah sampai yang pakai Vespa butut. Jadi bukan karena kasta tinggi (orang kaya atau berpangkat) kemudian jadi pengendara yang baik, kalau soal berangasan di jalan itu udah dari sononya bawaan lahir dan didikan ortu, mau kaya atau miskin.

SALAM BIKER

Akhirnya untuk rekan yang tidak bisa bertouring ria setiap hari (kamsudnya pulang pergi rumah-kantor), hanya bisa menahan napas saja. karena touring beneran tidak ada, jarak rumah kekantor tidak begitu jauh. Terutama saat diakhir minggu kemudian berpapasan dengan rombongan komunitas motor yang sedang dalam perjalanan touring, waduuuuhh rasanya iri, sebel, gemes, kuciwa jadi satu lah… 

LOGO

13 Feb

Gambar

Trigana Biker atau komunitas karyawan PT. Trigana Air yang punya hobby naik sepeda motor, baik yang karena kepaksa naik motor dari rumah kekantor, karena tidak ada pilihan transportasi lain yang bisa mendekati tepat waktu sampai di kantor, maupun yang memang benar-benar hobby naik motor.  Untuk menjadi anggotanya juga tidak punya persyaratan yang ngejelimet, yang pasti adalah karyawan Trigana Air dan senang ngumbar (ngumpul bareng), tidak perlu harus punya motor.

Seperti yang pernah diulas pada tulisan pertama, pembentukan komunitas Trigana Biker ini sangat unik, tidak ada pembicaraan awal, tidak ada rapat-rapat, apalagi membicarakan segala urusan ceper seperti bentuk organisasi, susunan pengurus dan lainnya. Semua serba instant saja, semua yang hadir kala itu Cuma berprinsip “mari kita touring bareng-bareng, untuk bisa menghilangkan kejenuhan dari tugas rutin dan yang penting mempererat silaturahim antar karyawan, dengan bonus menambah kenalan selama di perjalanan”.

Layaknya komunitas biker lainnya, tentunya Trigana Biker juga harus mempunyai identitas yang jelas, agar tidak dicurigai sebagai geng motor yang suka mengacau. Identitas ini harus sejalan dengan bisnis dari Trigana Air sebagai sebuah Perusahaan Penerbangan, juga sesuai dengan profesi dari anggotanya sebagai operator pesawat terbang. Identitas ini diekspresikan dalam bentuk logo Trigana Biker. Pemilihan logo juga tidak ribet, hanya dibuat oleh salah satu anggota, dan segera diaminin oleh semuanya. Dalam membuat logo ini, anggota tersebut juga tidak perlu mikir terlalu banyak, hanya comot sana sini dari beragam gambar di dunia maya, kemudian dikombinasikan, maka jadilah sebuah logo.

  Gambar

Bagi orang yang berkecimpung didunia penerbangan, gambar dari logo ini adalah sangat familiar, dimana :

  1. Pada lingkaran atas adalah gambar mesin piston (Piston Engine). Mesin piston adalah cikal bakal dari sebuah mesin yang dapat memutarkan roda, baling-baling dan lainnya dengan menggunakan bahan bakar gasoline atau avgas (Aviation Gasoline). Umumnya hanya pesawat latih atau pesawat kecil saja yang masih menggunakan mesin piston. Karena tenaga yang dihasilkan oleh mesin piston sangat terbatas, juga harga bahan bakarnya (avgas) sangat mahal.
  2. Pada Lingkaran bawah, adalah gambar dari Mesin Turbo fan (Turbo Fan Engine), yaitu jenis mesin turbin (Turbine Engine) berbahan bakar kerosene atau avtur (Aviation Turbine) saat ini digunakan untuk pesawat-pesawat modern berbadan lebar (wide body).
  3. Gambar tengah yang memanjang adalah gambar sayap (Wing) dari pesawat terbang.
  4. Dari ketiga point diatas, menyatakan bahwa Trigana mengoperasikan pesawat terbang yang masih menggunakan mesin piston (jenis Cessna 206 dan DHC-4 Caribou) dan pesawat yang menggunakan mesin turbine (jenis ATR-42 dan ATR 72), serta pesawat terbang yang menggunakan mesin turbo fan (jenis Boeing 737-300).

Dengan Logo diatas, kami ingin lebih mempertegas kecintaan kami terhadap profesi kami didalam bidang kedirgantaraan.

BIKER

12 Feb

Banyak orang yang menjadi seorang biker bukan karena hobby nya tapi karena tuntutan pekerjaannya yang memaksa untuk menggunakan sepeda motor ditengah arus lalu lintas yang padat didalam kota, agar tidak terlambat sampai tujuannya. Mungkin disatu masa nanti, bila pemerintah sudah sangat serius untuk menghadirkan serta mengelola fasilitas angkutan umum dalam kota, maka banyak biker kepaksa ini akan pensiun. Seorang yang memang hobby bermotor dan bukan karena terpaksa harus naik motor, pasti disetiap kesempatan yang dimiliki akan keluyuran keluar kota dengan sepeda motornya, menikmati alam sepanjang perjalanan kekota tujuan. Para biker ini pasti sering mendapatkan pertanyaan, entah dari isteri, keluarga atau teman yang tidak punya hobby naik motor, dengan pertanyaan bernada seperti ini : “Apa sech enaknya naik motor jauh-jauh, udah kepanasan, kehujanan dan rawan celaka lagi”.
Pertanyaan yang begini memang susah sekali ngejawabnya, dalam sebuah kaos (T shirt) dari merchandise Harley Davidson, ada tertulis  “If I have to explain, you wouldn’t understand”. Jadi itu mungkin jawaban yang pas. Karena gak mungkin juga lah akan mengerti, biar dijelaskan seperti apapun, wong emang hobby nya gak sama. Seperti kalau kita nanya kepada orang yang hobby panjat tebing, mau dijelasin kayak apa juga, tetap aja kita godek-godek melihat keberanian mereka saat manjat.

Ngobrol mengenai berbagai pengalaman suka duka dalam bermotor ria, tentunya harus dengan rekan yang memang punya hobby naik motor juga, lebih bagus lagi dengan rekan yang sering jalan bersama disaat touring. Bila obrolan mengenai motor sudah nyambung, gak akan kerasa kalau sudah ngabisin kopi 3 gelas dan beberapa batang rokok. Apa saja jadi bahan ceritaan, mulai dari setelan motor, merek busi yang bagus, aksesoris motor, aksesoris biker, kondisi jalan, pengalaman lucu atau menjengkelkan di jalan, sampai tempat penginapan saat bermalam.
Terkadang ada pengalaman apes yang setelah jadi bahan ceritaan malah membuat kita tertawa. Cerita dari seorang rekan biker saat touring dari Jakarta ke Jogya, dia mengalami pecah ban di Slawi, kemudian kena lobang dan velg nya bengkok dijalan raya Pekalongan, ditilang polisi saat mau masuk Jogya, ketanggur pas ada razia, lampu sen gak nyala, terakhir nyeruduk mobil orang hingga harus gantiin kaca lampu belakang yang pecah. Masih ketambahan apesnya saat makan malam di sebuah rumah makan, pesan minum es coklat, lama gak datang Tanya ke pelayan, lama gak datang Tanya lagi ke pelayan yang lain, begitu datang minumannya berjumlah 4 gelas, semua biker yang saat itu sedang makan juga, jadi ngakak.

motor bro petor

Sebagai biker, tentunya keinginan menjelajah tempat-tempat yang indah atau unik untuk dikunjungi, minimal paling tidak tempat indah yang ada di tanah air dari Sabang sampai Merauke, maunya sech bisa touring ke mancanegara juga, tapi masih belon ngamper dompetnya. Setiap ada kesempatan libur kantor, semua biker pasti berharap bisa dimanfaatkan untuk melakukan touring, baik bersama rekan ataupun sendiri (Lone Rider). Tour sendirian adalah pilihan terakhir karena kurang berkesan, gak ada acara bercanda dan tertawa bersama dengan biker yang lain. Tertawa dan bercanda dalam perjalanan disaat sedang berhenti untuk makan, ngisi bensin ataupun sekedar melepas lelah sangat bermanfaat banget untuk mengusir rasa lelah sehingga bersemangat lagi menempuh rute berikutnya.

rehat di pantura
Biker yang punya keluarga (anak dan isteri), sebagai kepala keluarga yang baik, pasti akan mendahulukan kesenangan bersama keluarga terlebih dahulu saat ada liburan, dibanding touring dengan rekan biker. Isteri yang toleran dengan hobby suami, pasti juga akan memberikan ijin sekali-sekali saat liburan kepada suaminya untuk touring agar suaminya bisa lebih fresh sekembali dari menjalankan hobby. Syukur-syukur Kalau kebetulan isteri mempunyai hobby yang sama, naik motor, nah klop sudah. Paling tidak sekali dayung dua pulau terlampaui. Touringnya dapat, ngemong isteri juga dapat. Bila anaknya masih kecil untuk sementara bisa titip di kakek dan neneknya dulu, kalau anaknya sudah besar, biasanya sudah punya acara sendiri, yang orang tua susah buat ngajak libur bersama.

kebun teh pagilaran

Melakukan touring, sangat membutuhkan perhitungan biaya yang tepat, gak mungkin touring pakai gaya bonek, Kalau Cuma soal tempat makan dan bermalam bisa dimana saja, yang jarang diperhitungkan adalah bila dalam keadaan darurat, seperti motor dapat problem dan butuh masuk bengkel dan penggantian komponen, atau ada kejadian yang tidak diharapkan sehingga harus keluar biaya yang tidak terduga. Jadi touring memang harus dilakukan dengan perencanaan yang matang, agar dengan waktu libur yang mepet, bisa mendapatkan perjalanan yang berkesan serta tidak terlambat masuk kantor kembali.